Beberapa waktu lalu, ada tulisan yang menarik di Harian Kompas yang intinya untuk mengatasi kenaikkan BBM ini opsi pemerintah tentang kenaikkan BBM ini di lakukan Voting ! jadi bukan hanya Indonesia Idol dan acara – acara televisi senada.
Saya setuju dengan usulan ini karena dengan cara ini kita (rakyat) bener-bener dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang akan menentukan nasibnya, cara ini juga akan menjadi cara sosialisasi yang baik bagi masyarakat.
Kondisi hanga minyak dunia yang tinggi tentu saja memberatkan pemerintah terutama menteri ekuin Boediono dan menteri keuangan dalam kabinet SBY ini dalam mengatur anggaran, sementara itu dengan kenaikan BBM akan memicu kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari yang saat inipun juga sudah memberatkan kita. Yang akhirnya akan menyengsarakan kita dan membuat jumlah rakyat miskin di Indonesia semakin banyak. Betul khan.
Pak Pengki adalah salah seorang cady di lapangan Golf Akademi Angkatan Udara Yogyakarta. Suatu pagi yang cerah datanglah aku dan kedua anakku ke driving Golf tersebut dan seperti biasa pak Pengki menyambut dengan ramah.
“Main pak ….?”
“Oh … iya pak, tapi stiknya dibawa pak Heny tunggu sebentar ya pak”
Persaingan di bisnis ini semakin sengit dan menuntut perhatian yang luar
biasa dari para pemegang keputusan, persingan tidak hanya timbul dari sesama produk tapi juga produk pengganti, sebagai contoh: coca-cola bukan hanya bersaing dengan pepsi-cola tapi juga bersaing dengan saudaranya sendiri fanta dan sprit, selain itu mereka juga harus bersaing dengan aqua serta teh botol.
Demikian halnya dengan bisnis di developer, kalo dulu para developer hanya bersaing dengan sesama perumahan yang diproduksinya sekarang mereka juga harus bersaing dengan apartemen.
Apartemen yang biasanya berada di tengah kota mempunyai mempunyai kelebihan seperti akses ke kota, privasi, keamanan serta biasanya kelengkapan fasilitas hunian seperti kolam renang, fitnes center, fasilitas lainnya dan lobby bahkan ada pula yang dilengkapi dengan mall.
Rumah merupakan salah satu kebutuhan penting selain sandang, bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia rumah dan sandang menjadi kebutuhan pokok. Kenaikan jumlah penduduk di Indonesia yang cukup besar mengakibatkan kebutuhan akan rumah belum bisa dipenuhi oleh pengembang yang ada selama ini ada karena itu perlu kiranya menumbuhkan pengusaha-pengusaha baru perumahan dan pada akhirnya pengembang tersebut mampu membantu mensuplai kebutuhan rumah secara nasional.
Untuk menjadi pengusaha perumahan sebetulnya tidak dituntut mempunyai modal yang besar tapi lebih kepada kemampuan mengelola perusahaan secara baik dan efisien. Dengan modal dasar tanah yang mempunyai akses baik terhadap jalan dan keramaian serta kontur tanah yang relative rata, agar biaya pekerjaan tanah tidak besar, tanah tersebut bisa segera dibangun dan dijual, modal itu dulu sebetulnya cukup untuk membuat sebuah perumahan.
Tanah sebagai modal dasar inipun sebetulnya tidak harus dipunyai sendiri atau dibeli secara langsung, tapi bisa saja bekerjasama dengan pemilik tanah dengan pola tertentu seperti:
Pembangunan perumahan, apartemen dan kawasan niaga mulai tumbuh subur hampir diseluruh Indonesia pertanda bahwa keadaan perekonomian makro sudah mulai berjalan lagi. Tumbuh suburnya pembangunan tersebut tentu saja mengakibatkan persaingan bisnis di sektor ini semakin ketat, ketatnya persaingan bisnis ini memungkinkan para pengembang mencari jalan paling mudah untuk mengatasi cash flow perusahaan, langkah paling mudah yang bisanya dilakukan adalah menurunkan harga. Pertanyaannya adalah, apakah dengan jalan tersebut seluruh permasalahan yang dihadapi perusahaan dapat diselesaikan?
Walau diakui bahwa dengan menurunkan harga dapat meningkatkan penjualan dalam jangka pendek tapi ini tidak selamanya berhasil. Penurunan harga di dalam perusahaan sendiri akan mengurangi margin bahkan memungkinkan kerugian, disisi kompetisi pesaing juga akan melakukan langkah yang sama sehingga kalau ini dilakukan terus menerus akan mengakibatkan kebangkrutan.