<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Duh&#8230;  si Tukang Cukur itu</title>
	<link>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/</link>
	<description>kepuasan pelanggan, pemasaran, manajemen, internet, it, real property, nlp adalah uneg uneg mastono</description>
	<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 07:43:44 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
		<item>
		<title>By: mastono</title>
		<link>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-13</link>
		<dc:creator>mastono</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 07:16:38 +0000</pubDate>
		<guid>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-13</guid>
		<description>dasar lho dek</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dasar lho dek</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Myrna</title>
		<link>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-12</link>
		<dc:creator>Myrna</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 07:07:12 +0000</pubDate>
		<guid>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-12</guid>
		<description>cucian deh loe..
makanya cukur di salon beken dunk mas
biaya mahal biasanya berbanding lurus dengan pelayanan
piss yaw
huehehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>cucian deh loe..<br />
makanya cukur di salon beken dunk mas<br />
biaya mahal biasanya berbanding lurus dengan pelayanan<br />
piss yaw<br />
huehehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mastono</title>
		<link>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-8</link>
		<dc:creator>mastono</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 03:59:29 +0000</pubDate>
		<guid>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-8</guid>
		<description>thank</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>thank</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: LuNz</title>
		<link>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-7</link>
		<dc:creator>LuNz</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 09:06:35 +0000</pubDate>
		<guid>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-7</guid>
		<description>seharUsnya walopun hanya sbagi pegawai , mereka dari awal sudah dipupuk untuk cinta perusahaan pak..rasa ingin memiliki harus ada dari awal.hehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>seharUsnya walopun hanya sbagi pegawai , mereka dari awal sudah dipupuk untuk cinta perusahaan pak..rasa ingin memiliki harus ada dari awal.hehe</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mastono</title>
		<link>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-6</link>
		<dc:creator>mastono</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 05:56:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-6</guid>
		<description>Terima kasih atas sharenya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih atas sharenya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: triwidodo</title>
		<link>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-5</link>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 14:22:26 +0000</pubDate>
		<guid>http://mastono.info/duh-si-tukang-cukur-itu/#comment-5</guid>
		<description>Bagus lho mas, tulisannya. Gak terasa aku baca kata demi kata, kok udah berakhir, dan pesannya udah nyampai.
Kalau di Balikpapan, lain lagi balada tukang cukurnya. Itu aku alami pada suatu malam pulang dari Mall Fantasi, tiba-tiba ketika melintas di Ring Road Damai Tiga, hujan lebat. Walau aku bawa jas hujan, tetapi aku gak berani melanjutkan karena memang lebat dan petir menyambar-nyambar.
Aku pun berteduh di dekat bengkel motor yang ternyata bersebelahan dengan tempat tukang cukur. Wah kebetulan, daripada bengong nunggu hujan reda, aku pun masuk untuk cukur rambut. Sambil agak ngantuk, aku menikmati helai demi helai rambut dipotong, mulai dari bagian belakang, samping kiri-kanan, hingga tuntas ke depan. Wah, rapi sekali aku lihat di kaca. Tinggal bagian jenggot yang sangat panjang, mulai dipangkas juga. 
Nah, di sini lah aku dibuat deg-degan. Pas separuh dari jenggot sudah pangkas, tiba-tiba petir menyambar. Der..., lampu mati. Aduh... gimana nih, masak pulang dengan separoh jenggot udah dicukur, dan sebelahnya masih panjang?
Tukang cukur tampak kalang kabut mencari-cari lampu emergency ke pemilik. Tapi ternyata baterynya habis, sehingga upaya mencari penerangan pun gagal. "Gak papa kok pak. Nanti saya cukur di rumah saja yang sebelahnya. Kebetulan saya menyimpan alat cukur," ujarku meredam kepanikan sang tukang cukur, sebab kalau menunggu lampu hanya, bisa-bisa jam 12 malam baru nyala. Itu pun kalau hujannya sudah reda. Kalau tidak, bisa sampai pagi.
Ternyata, ada teman sang tukang cukur yang tanggap, dan langsung bahu membahu membantu temannya. Kebetulan ada lampu senter, sehingga pekerjaan mencukur jenggot pun bisa tuntas, walau sempat was-was ketika pisau cukur beraksi dalam penerangan yang minim.
Itulah bedanya tukang cukur di Balikpapan dengan yang yang di Yogya. Jadi kapan, nih cukur ke Balikpapan?...
salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bagus lho mas, tulisannya. Gak terasa aku baca kata demi kata, kok udah berakhir, dan pesannya udah nyampai.<br />
Kalau di Balikpapan, lain lagi balada tukang cukurnya. Itu aku alami pada suatu malam pulang dari Mall Fantasi, tiba-tiba ketika melintas di Ring Road Damai Tiga, hujan lebat. Walau aku bawa jas hujan, tetapi aku gak berani melanjutkan karena memang lebat dan petir menyambar-nyambar.<br />
Aku pun berteduh di dekat bengkel motor yang ternyata bersebelahan dengan tempat tukang cukur. Wah kebetulan, daripada bengong nunggu hujan reda, aku pun masuk untuk cukur rambut. Sambil agak ngantuk, aku menikmati helai demi helai rambut dipotong, mulai dari bagian belakang, samping kiri-kanan, hingga tuntas ke depan. Wah, rapi sekali aku lihat di kaca. Tinggal bagian jenggot yang sangat panjang, mulai dipangkas juga.<br />
Nah, di sini lah aku dibuat deg-degan. Pas separuh dari jenggot sudah pangkas, tiba-tiba petir menyambar. Der&#8230;, lampu mati. Aduh&#8230; gimana nih, masak pulang dengan separoh jenggot udah dicukur, dan sebelahnya masih panjang?<br />
Tukang cukur tampak kalang kabut mencari-cari lampu emergency ke pemilik. Tapi ternyata baterynya habis, sehingga upaya mencari penerangan pun gagal. &#8220;Gak papa kok pak. Nanti saya cukur di rumah saja yang sebelahnya. Kebetulan saya menyimpan alat cukur,&#8221; ujarku meredam kepanikan sang tukang cukur, sebab kalau menunggu lampu hanya, bisa-bisa jam 12 malam baru nyala. Itu pun kalau hujannya sudah reda. Kalau tidak, bisa sampai pagi.<br />
Ternyata, ada teman sang tukang cukur yang tanggap, dan langsung bahu membahu membantu temannya. Kebetulan ada lampu senter, sehingga pekerjaan mencukur jenggot pun bisa tuntas, walau sempat was-was ketika pisau cukur beraksi dalam penerangan yang minim.<br />
Itulah bedanya tukang cukur di Balikpapan dengan yang yang di Yogya. Jadi kapan, nih cukur ke Balikpapan?&#8230;<br />
salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
