Anakku duluan dicukur rabutnya karena rambutnya pendek dan hanya dirapikan saja, giliran
orang kedua yang dicukur selesai berarti gilarkan, langsung saja aku duduk dan minta agar tukan cukur memotong rambutku karena sudah sesuai giliran.
Terkejut dan rada sedikit malu karena ternyata tukang cukurnya tidak mau mencukurku karena dia buru-buru pulang ….. katanya tukang cukur itu sudah lembur, waduh gaya bener orang ini. Terpaksa nunggu lagi.
Anak ku selesai dan segera dilihat hasilnya ternyata potongannya luar biasa buruk sampai-sampai tukang cukur yang sedang mencukur rambutku berhenti sejenak untuk membenahi potongan yang ditinggalkan temen-temennya. Alasannya sama dengan temennya yang pertama dia ingin segera pulang karena jam segini ini dia harus sudah pulang. Bajigur!
Sambil menggerutu aku berpikir kenapa tukang cukur ini dikasih duit kok ngga mau sedangkan ditempat lain salon-salon pada buat iklan besar-besar yang sesungguhnya membutuhkan biaya yang cukup agar didatangi pelanggan. Kenapa ini malah sebaliknya sudah tidak keluar iklan kok malah nolak pelanggan. Itu untuk kasus pertama.
Kasus kedua lebih parah lagi karena hasil (produk)cukurannya sangat mengecewakan tentu akan membuat pelanggan tidak akan mau berkunjung lagi bila saja tidak ada perbaikan dari tukang cukur lainnya.
Dari kasus di atas kita pasti sepakat untuk menyalahkan si tukang cukur itu ……
Eit …. tunggu dulu …. Kita cek dulu kenapa beliau-beliau melakukan hal seperti itu bukannya salonnya nggak rugi dengan sikapnya itu? Ia memang salonya akan rugi dengan sikap beliau tapi kenapa melakukan itu?
- Ternyata mereka ini karyawan yang digaji oleh pemilik salon makanya merka bekerja sesuai dengan jam kerja saja, bila jam kerja selesai sudah kayak cacing kepanasan pengin segera pulang.
- Tidak adanya kebijakan bonus bila mereka bekerja lebur atau bonus bila target pada hari itu tercapai.
Dan bener setelah ngobrol dengan si tukang cukur yang satunya yang saat itu memang kebagian tugas agak malam. Dia bilang kalo kerja disitu hanya dapat gaji bulannan dan mungkin pas-pasan.
Ya nasibku potong rambut di salon yang tidak memberikan kepuasan kepada karyawannya sehingga mana mungkin mereka memberikan kepuasan pada pelanggannya.
Duh akhirnya selesai juga ….




triwidodo
on April 19 2008
Bagus lho mas, tulisannya. Gak terasa aku baca kata demi kata, kok udah berakhir, dan pesannya udah nyampai.
Kalau di Balikpapan, lain lagi balada tukang cukurnya. Itu aku alami pada suatu malam pulang dari Mall Fantasi, tiba-tiba ketika melintas di Ring Road Damai Tiga, hujan lebat. Walau aku bawa jas hujan, tetapi aku gak berani melanjutkan karena memang lebat dan petir menyambar-nyambar.
Aku pun berteduh di dekat bengkel motor yang ternyata bersebelahan dengan tempat tukang cukur. Wah kebetulan, daripada bengong nunggu hujan reda, aku pun masuk untuk cukur rambut. Sambil agak ngantuk, aku menikmati helai demi helai rambut dipotong, mulai dari bagian belakang, samping kiri-kanan, hingga tuntas ke depan. Wah, rapi sekali aku lihat di kaca. Tinggal bagian jenggot yang sangat panjang, mulai dipangkas juga.
Nah, di sini lah aku dibuat deg-degan. Pas separuh dari jenggot sudah pangkas, tiba-tiba petir menyambar. Der…, lampu mati. Aduh… gimana nih, masak pulang dengan separoh jenggot udah dicukur, dan sebelahnya masih panjang?
Tukang cukur tampak kalang kabut mencari-cari lampu emergency ke pemilik. Tapi ternyata baterynya habis, sehingga upaya mencari penerangan pun gagal. “Gak papa kok pak. Nanti saya cukur di rumah saja yang sebelahnya. Kebetulan saya menyimpan alat cukur,” ujarku meredam kepanikan sang tukang cukur, sebab kalau menunggu lampu hanya, bisa-bisa jam 12 malam baru nyala. Itu pun kalau hujannya sudah reda. Kalau tidak, bisa sampai pagi.
Ternyata, ada teman sang tukang cukur yang tanggap, dan langsung bahu membahu membantu temannya. Kebetulan ada lampu senter, sehingga pekerjaan mencukur jenggot pun bisa tuntas, walau sempat was-was ketika pisau cukur beraksi dalam penerangan yang minim.
Itulah bedanya tukang cukur di Balikpapan dengan yang yang di Yogya. Jadi kapan, nih cukur ke Balikpapan?…
salam
mastono
on April 20 2008
Terima kasih atas sharenya
LuNz
on April 21 2008
seharUsnya walopun hanya sbagi pegawai , mereka dari awal sudah dipupuk untuk cinta perusahaan pak..rasa ingin memiliki harus ada dari awal.hehe
mastono
on April 23 2008
thank
Myrna
on April 24 2008
cucian deh loe..
makanya cukur di salon beken dunk mas
biaya mahal biasanya berbanding lurus dengan pelayanan
piss yaw
huehehe
mastono
on April 24 2008
dasar lho dek