24
Apr
Posted in Manajemen by mastono |
Study kasus On Speed Indonesia
Waduuuh ini kok kayaknya rada serius ya … padahal bahasan yang disini kudu yang mudah, simpel dan ringan …. (krupuk kalee).
Dengan penduduk yang cukup besar mestinya Indonesia merupakan pasar yang potensial untuk menjual hampir semua produk , tapi kenapa produk On Speed sulit dijual di Indonesia. Kenapa tuh …. (biar ringan)?
Menurut informasi yang saya dapatkan di jogja bootcamp kemaren:
- Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia cukup tinggi melebihi prediksi para ahli, tentu saja para ahli yang memprediksi itu, tentu saja bukan saya … he… he..he…
- Dial Up - 10x lebih cepat, Broadband - 5x lebih cepat & GPRS - 8x lebih cepat (ini saya ambil dari situs resminya lho), saya nggak tau starone ku ikut mana ? yang jelas rada lelet. Makanya saya pengin on speed indonesia ini.
- Harganya: hanya Rp. 1.233,- per hari (ini juga), murah dong! lebih murah dibanding sebungkus rokok.
- Onspeed Indonesia dapat dipakai pada PC Windows, Macintosh dan PocketPC (PDA).
- Informasinya download-program-14 hari sudah banyak yang di download tapi yang mendownload tersebut tidak melanujtkannya dalam penjualan.
Lalu mengapa masih sulit menjualnya? padahal kalo membaca kelebihan-kelebihan di atas harusnya cepet jualnya lho …. pak Watimena? trus piye dodolane? (terus gimana menjual-nya?) saya juga nggak tau …
Tapi saya ada 2 usulan kaleee bisa bantu jual On Speed Indonesia, kalo memang yang diinformasikan benar?
- Harganya dikemas lagi menjadi bulanan, orang Indonesia sensitif terhadap harga harga 350.000,- (harga promo) Rp. 450.000,- (harga normal) masih cukup mahal. Coba kalo di jual Rp. 30.000,- perbulan (harga promo) dan Rp. 37.500,- perbulan (harga normal). Secara psikogis harga ini lebih menarik kalo dibandingkan harga taunan alasannya minimal bayar internet berlangganan Rp. 99.000,- (speedy?) dan Rp. 100.000,- (starone?) berarti kan hanya sepertiganya. Harga ini lebih murah Rp. 100.000,- + Rp. 30.000,- = Rp. 130.000,- perbulan (hitungan starone 1gigabite + on speed promo) dibanding harga IM2 0,5 giga bite yang Rp. 160.000,- perbulan. Kalo melihat hitungan di atas harga On Speed lebih rendah dibanding manfaatnya? (? = saya belum coba on speed). Kalo harga ini ae juga mau ….
- Lakukan kerjasama dengan penyedia layanan internet: telkom, telkomsel, indosat dan penyedia layanan internet lainnya sehingga:
a. Pelanggan-pelanggan penyedia layanan internet bisa menjadi pasar On Speed.
b. On Speed bisa bener-bener fokus mengejar pelanggan spesifik.
kiranya uneg-uneg mastono hanya sampai disini saja …. (jogja 24/04/2008)


22
Apr
Posted in Manajemen by mastono |
Pak Pengki adalah salah seorang cady di lapangan Golf Akademi Angkatan Udara Yogyakarta.
Suatu pagi yang cerah datanglah aku dan kedua anakku ke driving Golf tersebut dan seperti biasa pak Pengki menyambut dengan ramah.
“Main pak ….?”
“Oh … iya pak, tapi stiknya dibawa pak Heny tunggu sebentar ya pak”
Setelah beberapa menit kemudian dan pak Heny belum datang juga pak Pengki menawarkanku lagi untuk main ….
“pak main saja dulu nanti saya carikan stik nomer 7 & 8 ….. “
“oke deh pak bolanya 200 saja ya ….”
Ternyata selain membawa stik nomer 7 & 8 pak Pengki juga bawa stik pendek untuk anak-anak …, singkat crita kami bermain sampai pak Heny datang. Selain melayani kami mau pak Pengki juga membantu anak-anak berlatih mukul-mukul bola dengan aturan yang benar.
Lain tukang cukur lain pula pak Pengki, tukang cukur tidak mau jual produk yang dia jual tapi pak Pengki memang harus jual produknya.
Tukang cukur dibayar oleh pemilik salon dengan pasti (fix cost), apakah dia mencukur rambut atau hanya baca Koran. Pak Pengki hanya dapat bayaran kalau melayani tamu (variable cost) dan bener-bener tidak akan mendapatkan bayaran kalau tidak ada tamu.
Kini terjawab sudah kenapa pak Pengki begitu baik, apalagi kalau dibanding dengan tukang cukur, dia bener-bener harus melayani pelanggan dengan sangat baik bila ingin dipakai oleh para pelanggan dan mendapatkan tips yang lumayan yang pada akhirnya akan mendapatkan pendapatan yang maksimal.
Sayang tadi pak Pengki tidak muncul sehingga saya tidak memakai jasanya …. Paling-paling dia sedang melayani pelanggan lain …. Semoga banyak pak Pengki yang lain yang membuat pelanggan nyaman dan pada akhirnya para pelanggan akan menjadi pelanggan yang loyal …..(jogja 22/04/2008)



18
Apr
Posted in Manajemen by mastono |
Seminggu yang lalu aku potong rambut dengan anakku yang merupakan kegiatan rutin bulanan. Saat itu di Salon tersebut ada 3 orang yang sedang dicukur rambutnya sedang aku dan anakku sabar menunggu & duduk manis. Satu orang selesai dicukur rambutnya dan kini giliranku & anakku.
Anakku duluan dicukur rabutnya karena rambutnya pendek dan hanya dirapikan saja, giliran
orang kedua yang dicukur selesai berarti gilarkan, langsung saja aku duduk dan minta agar tukan cukur memotong rambutku karena sudah sesuai giliran.
Terkejut dan rada sedikit malu karena ternyata tukang cukurnya tidak mau mencukurku karena dia buru-buru pulang ….. katanya tukang cukur itu sudah lembur, waduh gaya bener orang ini. Terpaksa nunggu lagi.
Anak ku selesai dan segera dilihat hasilnya ternyata potongannya luar biasa buruk sampai-sampai tukang cukur yang sedang mencukur rambutku berhenti sejenak untuk membenahi potongan yang ditinggalkan temen-temennya. Alasannya sama dengan temennya yang pertama dia ingin segera pulang karena jam segini ini dia harus sudah pulang. Bajigur!
Sambil menggerutu aku berpikir kenapa tukang cukur ini dikasih duit kok ngga mau sedangkan ditempat lain salon-salon pada buat iklan besar-besar yang sesungguhnya membutuhkan biaya yang cukup agar didatangi pelanggan. Kenapa ini malah sebaliknya sudah tidak keluar iklan kok malah nolak pelanggan. Itu untuk kasus pertama.
Kasus kedua lebih parah lagi karena hasil (produk)cukurannya sangat mengecewakan tentu akan membuat pelanggan tidak akan mau berkunjung lagi bila saja tidak ada perbaikan dari tukang cukur lainnya.
Dari kasus di atas kita pasti sepakat untuk menyalahkan si tukang cukur itu ……
Eit …. tunggu dulu …. Kita cek dulu kenapa beliau-beliau melakukan hal seperti itu bukannya salonnya nggak rugi dengan sikapnya itu? Ia memang salonya akan rugi dengan sikap beliau tapi kenapa melakukan itu?
- Ternyata mereka ini karyawan yang digaji oleh pemilik salon makanya merka bekerja sesuai dengan jam kerja saja, bila jam kerja selesai sudah kayak cacing kepanasan pengin segera pulang.
- Tidak adanya kebijakan bonus bila mereka bekerja lebur atau bonus bila target pada hari itu tercapai.
Dan bener setelah ngobrol dengan si tukang cukur yang satunya yang saat itu memang kebagian tugas agak malam. Dia bilang kalo kerja disitu hanya dapat gaji bulannan dan mungkin pas-pasan.
Ya nasibku potong rambut di salon yang tidak memberikan kepuasan kepada karyawannya sehingga mana mungkin mereka memberikan kepuasan pada pelanggannya.
Duh akhirnya selesai juga ….


