18
Apr
Posted in Manajemen by mastono |
Seminggu yang lalu aku potong rambut dengan anakku yang merupakan kegiatan rutin bulanan. Saat itu di Salon tersebut ada 3 orang yang sedang dicukur rambutnya sedang aku dan anakku sabar menunggu & duduk manis. Satu orang selesai dicukur rambutnya dan kini giliranku & anakku.
Anakku duluan dicukur rabutnya karena rambutnya pendek dan hanya dirapikan saja, giliran
orang kedua yang dicukur selesai berarti gilarkan, langsung saja aku duduk dan minta agar tukan cukur memotong rambutku karena sudah sesuai giliran.
Terkejut dan rada sedikit malu karena ternyata tukang cukurnya tidak mau mencukurku karena dia buru-buru pulang ….. katanya tukang cukur itu sudah lembur, waduh gaya bener orang ini. Terpaksa nunggu lagi.
Anak ku selesai dan segera dilihat hasilnya ternyata potongannya luar biasa buruk sampai-sampai tukang cukur yang sedang mencukur rambutku berhenti sejenak untuk membenahi potongan yang ditinggalkan temen-temennya. Alasannya sama dengan temennya yang pertama dia ingin segera pulang karena jam segini ini dia harus sudah pulang. Bajigur!
Sambil menggerutu aku berpikir kenapa tukang cukur ini dikasih duit kok ngga mau sedangkan ditempat lain salon-salon pada buat iklan besar-besar yang sesungguhnya membutuhkan biaya yang cukup agar didatangi pelanggan. Kenapa ini malah sebaliknya sudah tidak keluar iklan kok malah nolak pelanggan. Itu untuk kasus pertama.
Kasus kedua lebih parah lagi karena hasil (produk)cukurannya sangat mengecewakan tentu akan membuat pelanggan tidak akan mau berkunjung lagi bila saja tidak ada perbaikan dari tukang cukur lainnya.
Dari kasus di atas kita pasti sepakat untuk menyalahkan si tukang cukur itu ……
Eit …. tunggu dulu …. Kita cek dulu kenapa beliau-beliau melakukan hal seperti itu bukannya salonnya nggak rugi dengan sikapnya itu? Ia memang salonya akan rugi dengan sikap beliau tapi kenapa melakukan itu?
- Ternyata mereka ini karyawan yang digaji oleh pemilik salon makanya merka bekerja sesuai dengan jam kerja saja, bila jam kerja selesai sudah kayak cacing kepanasan pengin segera pulang.
- Tidak adanya kebijakan bonus bila mereka bekerja lebur atau bonus bila target pada hari itu tercapai.
Dan bener setelah ngobrol dengan si tukang cukur yang satunya yang saat itu memang kebagian tugas agak malam. Dia bilang kalo kerja disitu hanya dapat gaji bulannan dan mungkin pas-pasan.
Ya nasibku potong rambut di salon yang tidak memberikan kepuasan kepada karyawannya sehingga mana mungkin mereka memberikan kepuasan pada pelanggannya.
Duh akhirnya selesai juga ….



18
Apr
Posted in Real Property by mastono |
Pembangunan perumahan, apartemen dan kawasan niaga mulai tumbuh subur hampir diseluruh Indonesia pertanda bahwa keadaan perekonomian makro sudah mulai berjalan lagi. Tumbuh suburnya pembangunan tersebut tentu saja mengakibatkan persaingan bisnis di sektor ini semakin ketat, ketatanya persaingan bisnis ini memungkinkan para pengembang mencari jalan paling mudah untuk mengatasi cash flow perusahaan, langkah paling mudah yang bisanya dilakukan adalah menurunkan harga. Pertanyaannya adalah, apakah dengan jalan tersebut seluruh permasalahan yang dihadapi perusahaan dapat diselesaikan?
Walau diakui bahwa dengan menurunkan harga dapat meningkatkan penjualan dalam jangka pendek dan tidak selamanya berhasil. Penurunan harga di dalam perusahaan sendiri akan mengurangi margin bahkan memungkinkan kerugian, disisi kompetisi pesaing juga akan melakukan langkah yang sama sehingga kalau ini dilakukan terus menerus akan mengakibatkan kebangkrutan.
Sebagai pengembang tentu saja membuat nilai tanah menjadi lebih bernilai merupakan suatu keharusan karena karakter dasar usaha ini adalah meningkatkan nilai jual tanah untuk mendapatkan profit. Semakin bagus kita melakukan pengembangan tanah ini semakin besar profit yang akan kita dapatkan.
Pada saat pengembang membangun rumah serta membuat sarana dan prasarananya sebetulnya tanah yang dikembangkan tersebut sudah mempunyai nilai tambah, yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana kalau semua pengembang yang melakukan hal yang sama karena sarana dan prasarana merupakan persyaratan mutlak pengembangan perumahan? Dari sini bisa dilihat bahwa walaupun sudah ada nilai tambah kalau semua melakukan hal yang sama nialai tambah tersebut menjadi tidak terasa yang kalau semuanya seperti ini perumahan yang dijual sudah merupakan komoditi sehingga nilai tawar pembeli kepada komoditi tersebut lebih tinggi yang akan mengakibatkan harga jual tanah dan bangunan dihargai seharga biaya prokok produksi, inilah yang akhirnya membuat persaingan dalam harga.
Untuk mengatasi hal tersebut agar perumahan yang dikembangkan tidak menjadi komoditi buatlah perumahan yang mempunyai perbedaan dengan perumahan lainnya dengan menciptakan nilai lebih dengan perumahan lainnya.
Salah satu cara untuk menciptakan nilai lebih adalah melihat potensi-potensi lokasi dimana perumahan tersebut berada, sarana dan prasarana kota, keadaan social ekonomi masarakat dan lainnya.
Potensi lokasi seperti laut, sungai, danau dan kontur tanah bisa jadi merupakan salah satu potensi yang bisa dikembangkan. View sungai, laut atau bahkan danau bisa jadi merupakan merupakan potensi yang bisa dijual dan dimanfaatkan menjadi nilai lebih yang tidak dipunyai perumahan lain. View laut bisa menjadi pemandangan yang indah, dengan keindahan tersebut rumah yang mempunyai view tersbut bisa dijual tinggi , keberadaan sungai disatukan dengan kawasan sebagai tempat mincing dan wisata keluarga juga memberikan nilai, demikian halnya dengan danau. Potensi alam ini harus benar-benar dimanfaatkan dan didisain terintegrasi dengan perumahan sehingga akan menciptakan nilai tembah tersendiri dibandingkan dengan perumahan lainnya.
Sarana dan prasarana kota yang buruk memang menjadi kendala dalam pengembangan perumahan tapi bila kita bisa memanfaatkannya dengan baik kendala tersebut justru akan menjadi kelebihan diperumahan yang kita bangun. Sebagai contoh PDAM disuatu daerah tidak bisa suplai perumahan yang sedang dikembangkan sementara itu kalaupun bisa juga suplainya tidak lancar, dengan tambahan investasi sumur bor dan membuat jaringan PDAM sendiri perumahan kita menjadi nilai lebih dan bisa klaim bahwa perumahan kita paling baik dari perumahan pesaing karena air tidak pernah berhenti mengalir tidak seperti air di perumahan lainnya.
Kondisi social ekonomi masyarakat di daerah perumahan merupakan salah satu factor yang menentukan dalam membubuat segmentasi pasar dan positioning, dengan mempelajari kondisi social ekonomi dan melihat pesain yang ada kita bisa masuk di ceruk pasar mana perumahan kita bisa bermain, dengan bermain di ceruk pasar yang tepat kita bisa mebuat harga yang tepat karena perumahan yang kita bangun berbeda dengan perumahan lainnya tentu saja tidak hanya sekedar berbeda tapi juga lebih baik.
Dengan ada nilai lebih rumah yang kita bangun bisa menjadi produk yang unik yang mempunyai brand yang baik sehingga perumahan tersebut tidak perlulagi memperebutkan konsumen dengan jalan menurunkan harga atau bermain di harga murah.
(tulisan ini pernah dimuat di majalah “bisnis properti“)


18
Apr
Posted in Real Property by mastono |
Persaingan di business semakin sengit dan menuntut perhatian yang luar
biasa dari para pemegang keputusan, persingan tidak hanya timbul dari sesama produk tapi juga produk pengganti. sebagai contoh cocacola bukan hanya bersaing dengan pepsi cola tapi juga beraing dengan saudaranya sendiri fanta dan sprit selain itu mereka juga mesti bersing dengan aqua serta teh botol.
Demikian halnya dengan bisnis perumahan kalo dulu hanya bersaing dengan sesama perumahan sekarang harus bersaing dengan apartemen. Apartemen yang biasanya berada di tengah kota mempunyai mempunyai kelebihan seperti akses ke kota, privasi, keamanan serta biasanya kelengkapan fasilitas hunia seperti kolam renang, fitnes center, fasilitas lainnya dan hall bahkan ada pula yang dilengkapi dengan mall.
Dengan harga yang relatif hampir sama dengan harga jual perumahan tentu saja apartemen mempunyai nilai lebih tersendiri, pengalaman yang pernah didapatkan adalah saat menjual produk untuk segmen tertentu agak kesulitan karena sebagian dari konsumen tersebut menunggu apartemen di tengah kota yang sedang dikerjakan.
Memang benar tidak ada gading yang tak retak, karena itu walaupun banyak sekali kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan di atas tentu saja ada kekurangan seperti: apartemen tidak ada tanah lebih seperti tidak ada tanah jadi tidak bisa berkebun, tidak bisa dikembangkan lagi, sosilisasi di apartemen cenderung kurang, dan biaya pengelolaan yang biasanya cukup mahal.
Dengan kekurang dan kelebihan tersebut pengembang perumahan sebetulnya masih mempunyai celah untuk bersaing dengan apartemen asal saja bisa dengan jeli masuk ke segmen-segmen masyarakat yang menyukai suasana rumah biasa, masih punya keinginan untuk memperbesar jumlah rumah, dapat berkebun dan suka bersosialisasi yang tidak didapatkan di apartemen-apartemen.
Jadi sekarang pengembang perumahan harus benar-benar jeli membaca segmen pasar dan hati-hati dalam menetapkan harga jual, karena selain bersaing dengan pengembang perumahan juga bersaing dengan pengembang Apartemen yang biasanya mempunyai fasilitas yang lengkap.


18
Apr
Posted in Nawaitu by mastono |
Dengan membaca “Bismillahirohmanirhim” saya mulai menulis lagi. Semoga tiap minggu bisa nulis lage ….

